Setelah Pontianak, saya diajak hijrah ke sisi lain Kalimantan yaitu Putussibau. Perjalanan dari Pontianak ke Putussibau hanya memakan waktu satu jam dengan pesawat. Bila melalui perjalanan darat bisa memakan waktu hingga kurang lebih 18 jam.
Setelah sampai Bandar Udara Pangsuma, saya dan yang lain masih harus melanjutkan perjalanan ke Lanjak. Dari Putussibau ke Lanjak kami masih harus naik mobil dan ini memakan waktu sekitar 3 jam. Saya salah. Saya kira tujuan kami adalah Lanjak tapi sesampainya di Lanjak ternyata kami harus turun dan berganti kendaraan menjadi long boat. Awalnya saya merasa sangat lelah tapi begitu saya duduk di atas long boat, mesin dinyalakan dan saya mulai bergerak di atas air, saya mendadak bersemangat lagi. Saya disambut langit senja oranye yang sangat cantik. Diterpa sinar matahari yang hangat di pipi. Sembari merasakan cipratan air yang segar, saya tak henti-hentinya terpukau.
Danau yang saya susuri adalah danau buatan. Kak Dita bercerita, apabila musim kemarau tiba, danau yang kami lalui waktu itu akan kering dan hanya bisa dilalui dengan motor. Perjalanan masih terus berlanjut selama 2 jam, melalui beberapa desa dan sampai akhirnya saya dan yang lain sampai di Meliau.
Saya bersama yang lain tiba di Meliau saat langit sudah gelap dan matahari sudah berganti bulan. Dari kejauhan, saya melihat kerumunan orang di bawah cahaya remang-remang berkumpul, menyambut kami yang datang dari jauh.
Penyambutan warga desa Meliau bisa dikatakan meriah. Kami disambut oleh tarian dan makanan serta minuman khas desa Meliau. Pertama menginjakan kaki di desa tersebut, satu persatu dari kami diharuskan untuk membuang arak yang telah disediakan ke sungai untuk menghormati para leluhur. Selain itu kami disuguhi snack yang bentuknya seperti pop corn tapi terbuat dari beras. Tidak lama setelah snack pembuka, datang barisan ibu-ibu desa Meliau sambil menenteng makanan. No wonder desa ini selalu jadi langganan WWF, saya saja makan sampai nambah 3 piring haha. Selesai menyantap makan malam, forum diskusi dibuka. Saya ikut memperkenalkan diri di dalamnya.
Keesokan harinya, Kak Dita mengajak saya berkeliling. Saya melihat sekolah dasar di sana. SD negeri di Meliau hanya ada 1 dengan hanya beberapa ruang kelas. Tiga ruang kelas untuk jenjang kelas 1 sampai kelas 6 dan hanya ada satu guru yang mengajar untuk masing-masing kelas. Sekolah di sana gratis tapi tidak termasuk seragam dan buku. Saya terharu dengan semangat sekolah yang dimiliki anak-anak di Meliau. Saya lebih takjub lagi dengan pak guru yang mengajar sendirian dan sanggup mengatur enam kelas sekaligus. Jika melihat hal itu, saya jadi suka berpikir tentang adanya ujian nasional. Sangat tidak fair karena ternyata pendidikan di Indonesia masih belum merata.
Sehabis sarapan, kami pergi ke stasiun pengamatan satwa di Bukit Peninjau. Kami kembali mengarungi danau dengan long boat. Perjalanan ke Bukit Peninjau cukup panjang tapi tidak terasa karena banyak yang bisa saya lihat di sepanjang jalan ke sana. Stasiun pengamatan yang kami tuju baru saja selesai dibangun. Berada di tengah hutan di kaki bukit.
Keesokan harinya, saya diajak tracking. Dengan bermodalkan piyama dan sendal jepit, saya nekat untuk terus melaju ke atas. Sepatu kanvas saya basah gara-gara saya sempat tercebur di jalan menuju stasiun pengamatan tapi hal itu tidak menyurutkan semangat saya untuk tetap beraktivitas.
Di sepanjang tracking, saya menimba banyak ilmu dari Bang Albert. Beliau terus berceloteh tentang jenis-jenis tanaman yang kami temui. Saya baru tahu ada jamur yang bisa dimakan mentah-mentah dan rasanya seperti jelly.
Akhirnya saya tiba di tempat tujuan yaitu sarang orang utan. Stasiun pengamatan yang saya kunjungi dibangun karena telah ditemukannya sarang orang utan di sekitar Bukit Peninjau. Menurut WWF, orang utan yang membangun sarang ini bukan sembarang orang utan. Sarangnya yang terbuat dari batang dan ranting yang memang sengaja dipatahkan mengindikasikan bahwa orang utan tersebut berintelegensi tinggi. Kenyataan karena saya harus puas dengan hanya melihat sarangnya bukan penghuninya membuat saya semakin berpikir bahwa populasi mereka benar-benar terancam.
Merekalah yang setia menuntun dan menemani saya dalam trip singkat ini.
Setelah turun dari Bukit Peninjau, saya dan Kak Lia kembali menuju Meliau tanpa Kak Dita, Mas Dito atau Pak Tri. Saya diberi waktu ekstra untuk berinteraksi dengan warga Meliau untuk bertanya-tanya lebih dalam karena sebelumnya saya hanya menginap semalam disana. Di jalan kembali ke Meliau, saya diajak berkeliling danau. Ternyata danau sentarum mempunyai anak-anak danau dan semuanya indah.
Travel-guide paling minimalis dalam bicara yang pernah saya temui.
Di tiap aliran sungai hampir di setiap sudutnya, banyak saya temui perangkap ikan seperti ini. Mata pencaharian warga di sana memang dari menambak ikan. Makanannya juga ikan, hampir tiap hari bahkan setiap hari di Meliau saya selalu disuguhi ikan sebagai menu utama. Ikan yang menjadi pentolan disini selain arwana adalah ikan toman.
Saya diberitahu bahwa gunung tersebut menurut legenda berasal dari perahu yang terbalik. Kembaran Tangkuban Perahu mungkin hihi
Yang saya kagumi dari warga Meliau mereka bekerja benar-benar dengan gotong royong. Menangkap ikan berkelompok, membaginya rata dan tetap bahagia dengan pekerjaan mereka. Beda dengan keseharian pekerja di kota yang kebanyakan saya lihat.
Ikan yang mereka tangkap dibawa ke penampungan ikan. Di Meliau, penampungan ikan terdapat di rumah Pak Kades. Ikan dihargai sesuai dengan kelompoknya. Kelas A yaitu 3kg-10kg dihargai 50 ribu rupiah per kilonya. Kelas B 2kg-3kg dihargai 20 ribu dan Kelas C yaitu <2kg dihargai 10 ribu per kilo. Kalau dibawa langsung ke pasar, semua ikan tanpa melihat ukurannya akan dihargai 20 ribu rupiah per kilo.
Ini adalah persembahan untuk leluhur yang dipasang saat upacara penyambutan kemarin lusa. Kata warga Meliau, persembahan ini akan diturunkan 3 hari setelah acara selesai sebagai simbolisasi.
Saya berkeliling di rumah panjang dan tidak sengaja menemukan ada ibu yang sedang menenun. Saya takjub dengan hasil tenunan Meliau. Detail dan cantik tapi sayangnya hasil tenunan itu tidak dijual, hanya diperuntukan untuk dipakai. Tenunan itu memakan waktu hingga berbulan-bulan. Ibu sengaja membuatnya untuk acara adat yang akan datang sebentar lagi. Rupanya warga Meliau memang sedang sibuk mempersiapkan acara adat yang akan datang beberapa hari lagi. Acara adat tersebut digelar di rumah panjang ini. Warga rumah panjang di sini menjadi tuan rumah sedangkan tamunya adalah warga dari rumah panjang sekitar. Acara adat ini berlangsung secara rutin setiap beberapa bulan sekali dengan giliran tertentu untuk siapa yang menjadi tuan rumah acara selanjutnya. Tuan rumah menyuguhkan semua hidangan kolektif yang dimiliki oleh semua keluarga di suatu rumah panjang. Dari mulai ikan sampai hasil berkebun, semua diolah dengan sanggat menggiurkan. Disini, hasil perkebunan tidak untuk dijual melainkan hanya dibuat konsumsi pribadi. Di Meliau, wanita yang berkebun sedangkan lelakinya sibuk menambak ikan, mengaret, dan terkadang kerja ke negeri sebrang. Banyak saya temukan orang Meliau yang sedang mudik karena acara adat. Mereka sehari-harinya bekerja di Malaysia. Kebanyakan wanitanya menikah dengan orang Malaysia dan ikut tinggal disana. Mirisnya, dari yang saya tanya, seorang ibu menjawab beliau lebih betah tinggal di Malaysia ketimbang di tempatnya sendiri. Walaupun begitu saya melihat kehidupan disini begitu seimbang. Semua saling membantu dan mengerjakan semua dengan paguyuban.
Satu lagi keindahan yang tersimpan di dalam perut Meliau, tikar. Tikar ini terbuat dari tanaman yang jarang ditemukan di hutan. Ibu-ibu di Meliau turun temurun belajar membuat tikar dan sumber yang potensial seperti ini lagi-lagi tidak dimaksimalkan. Saya pernah bertanya kepada salah satu ibu yang membuat tikar mengapa tikar dan baju adat tidak dibuat untuk dijual. Mereka menjawab karena tidak ada yang membeli. Padahal banyak barang ekonomis yang bisa ditemukan di desa seperti Meliau. Semoga dengan adanya rencana eko wisata, Meliau bisa menjadi salah satu spot yang bakal dikunjungi wisatawan dan potensi-potensi yang tersembunyi tadi bisa dimaksimalkan.
Bang Hermes bercerita kepada saya, sebenarnya Dayak bukan nama dari satu suku. Sebenarnya suku bermacam-macam, ada Suku Iban seperti mayoritas di rumah panjang dan lain-lain tetapi kebanyakan orang salah persepsi. Dari cerita beliau, saya baru menyadari bahwa Indonesia sangat kaya akan suku. Tiap suku mempunyai bahasa, adat dan budaya yang berbeda-beda. Pulau yang mempunyai suku paling banyak adalah Papua dengan 500 suku yang ada di dalamnya. Di Kapuas Hulu, beda suku beda pula jenis arsitektur rumahnya.
Akhirnya selesai perjalanan singkat saya di Kalimantan. Terima kasih kepada semua yang telah memberikan pengalaman berharga kepada saya. Meski singkat, perjalanan ini begitu membuka mata, hati, dan telinga saya lebar-lebar.
Semoga perjalanan ini mengawali perjalanan-perjalanan saya berikutnya hehe amin.
Terima kasih WWF Indonesia :-)
