Monday, 5 December 2011

Hemat Kertas Selamatkan Hutan

Ini adalah kebiasaan saya yang menurut saya sepele tapi berpengaruh besar terhadap keselamatan hutan. Mau tahu apa saja? Ini dia!

1. Menulis di kedua sisi kertas


Saya selalu menulis bolak-balik, tidak meloncat halaman.




Apabila halaman satu sudah penuh, saya akan lanjut ke halaman belakangnya bukan meloncat ke lembar baru.


2. Mengoptimalkan tiap lembar kertas


Karena di kampus banyak tugas yang mengharuskan saya membuat paper atau menulis tugas di atas kertas folio bergaris, saya lumayan banyak menghabiskan lembar folio bergaris yang artinya ikut men-support ditebangnya pohon-pohon di hutan.




Untuk menyiasatinya, jika dalam satu lembar (seperti yang saya contohkan di foto-foto di atas dan di bawah) ada halaman yang kosong dan tidak terpakai sedangkan halaman yang merupakan tugas saya wajib dikumpulkan maka saya merobek halaman yang tidak terpakai itu tadi. 


Hal tersebut saya lakukan untuk mengefisiensikan penggunaan kertas karena satu lembar kertas berpengaruh pada kehidupan satu batang pohon.



3. Print bolak-balik


Sejak adanya kampanye tentang mematikan televisi bila tidak ditonton, matikan lampu bila terang, dan print kertas bolak-balik saya seakan tersadar dan jadi berpartisipasi dan akhirnya jadi suatu kebiasaan yang saya lakukan sampai sekarang, salah satunya print kertas di kedua sisi.


Sayang sekali masih sedikit yang menyadari bahwa hal-hal kecil di atas bisa berpengaruh cukup besar bagi keselamatan hutan kita yang sekarang terancam. Di kampus, saya sering menemukan makalah yang tidak di-print bolak-balik. Saya masih menemukan mahasiswa yang menulis tidak di kedua sisi kertas.

Menurut saya, kampanye perlu dilakukan lebih gencar, terutama di lingkungan perkantoran, sekolah dan kampus karena kontribusi besar pemakaian kertas berada di tiga tempat tersebut. Andai semua sudah bangun dan sadar, pasti dunia ini menjadi tempat yang lebih nyaman untuk kita huni.

Saturday, 3 December 2011

Di Balik Hutan Kita





sumber: greenpeace.org
             orangutan.org

Taman Safari Indonesia






Eco Labelling

Bukan hanya produk makanan dan minuman yang punya sertifikasi halal. Sebenarnya produk furnitur juga disertifikasi tetapi kebanyakan dari kita belum familiar dengan hal itu. Sertifikasi untuk produk-produk furnitur dinamakan eco-label. Apa sih eco labelling? Secara umum, Eco Labelling menuntut bahwa setiap produk dagangan harus telah didasarkan pada kelestarian sumber daya dan ekosistem dari lingkungan hidup. Dimulai dari pengambilan bahan baku (misalnya kayu), pengangkutan bahan baku ke pabrik, proses dalam pabrik, pengangkutan produk pabrik ke konsumen, pemakaian produk dan pembuangan sampah (bekas pakai dari produk) secara keseluruhan tidak mencemari lingkungan(ramah lingkungan). Eco labelling ini sendiri muncul akibat dikeluarkannya Lacey Act, UU yang mengatur legalitas dan asal usul kayu yang digunakan sebagai bahan baku furnitur yang dijual di Amerika Serikat. Tidak hanya furnitur, Lacey Act juga melihat bahan baku kertas, bahan penutup lantai, dan kayu lapis. Disini terlihat sekali kontribusi Amerika terhadap keselamatan dunia dari ancaman global warming karena dengan Lacey Act, eksportir yang menggunakan kayu dari hasil illegal logging tidak akan bisa menembus pasar Amerika. Konsep UU itu dilandasi dua hal. Pertama, karena desakan konsumen AS yang makin menyadari dampak global warming. Serta, regulasi dari legislatif yang mewajibkan perusahaan dan importir furniture untuk menggunakan kayu yang sah (sustainable practices). UU ini tidak hanya dikenakan pada importir asal Indonesia saja, tapi juga produsen kayu dari seluruh dunia, termasuk Eropa dan negara-negara Asia lainnya sehingga bisa membuat angka illegal logging yang terjadi di seluruh penjuru dunia menurun. Tetapi sekarang bukan hanya Amerika saja, Jepang serta nega-negara di Eropa juga sudah menerapkan eco-label. Bahkan Indonesia juga telah mendukung program eco-label dengan terbentuknya SENADA, industri yang bergerak di bidang home furnishing, alas kakikomponen kendaraan, garmen, dan teknologi informasi dan komunikasi. Negara-negara kini ikut memproduksi produk yang sustainable practices karena selain ramah lingkungan juga dapat dengan mudah diterima di pasar perdagangan internasional.


Tapi, akan jadi sia-sia apabila produsen sudah berusaha menjaga lingkungan tetapi konsumennya masih acuh. Kita sebagai konsumen harus cerdas dalam memilih produk. Memilih bahan-bahan yang berbahan dasar kayu legal artinya membantu perekonomian negara karena mendukung produk-produk lokal yang legal sekaligus membantu menyelamatkan hutan yang sedang terancam kelestariannya. Selain itu, kita juga dapat menyelamatkan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya dari bahaya yang akan ditimbulkan hutan gundul.


Belilah produk dalam negeri yang legal.
Bantu tumbuhkan perokonomian negara dan selamatkan paru-paru dunia mulai hari ini karena kalau bukan kita, siapa lagi ya nggak?


Nah, ini contoh furnitur yang eco-label (bukan promosi loh).



so, be a smart buyer ;-D

sumber: majalahduit.co.id

Thursday, 1 December 2011

Asal Mula Tisu



Ini adalah proses pembuatan tisu yang saya ringkas dalam bentuk ilustrasi gambar. Tisu dibuat dari pulp (bubur kertas). Pulp berasal dari batang pohon akasia dan eucalyptus yang diproses secara kimia. Untuk membuat tisu, produsen harus membuat perkebunan akasia dan eucalyptus, lalu setelah pohon tersebut besar maka dilakukan penebangan untuk mendapatkan kayunya. Yang berarti suatu penggundulan hutan menyebabkan luas hutan alam semakin menyusut karena digantikan oleh perkebunan akasia dan eucalyptus. Selain itu, tissue juga mengalami proses pemutihan untuk mendapatkan warna putih pada tisu. Proses pemutihan pada tissue menggunakan  gas chlor (Cl) terhadap pulp yang berwarna hitam. Bahan baku gas Cl adalah toksik, yang limbahnya juga masih mengandung racun. Jadi, cukup jelas kan mengapa sebaiknya kita lebih memilih sapu tangan daripada tisu?

Wednesday, 30 November 2011

Savior



Hi there! Akhirnya bisa ngepost lagi setelah sekian lama blog ini terlantar hehe nah saya mau memperkenalkan pahlawan saya. Dia adalaaaaaaah *drum roll* kain lap!
Ini yang sempat saya bahas di postingan sebelumnya tapi belum sempat saya perlihatkan penampakannya. Walaupun sudah sedikit luntur warnanya tapi ia setia menemani saya di saat panas dan sangat panas. Saya sempat beralih sebentar dan menggunakan tissue tapi menurut saya tissue boros dan cepat habis maka saya kembali ke pelukan kain lap ini. Semoga yang lain bisa ikut beralih ke lap atau sapu tangan juga ya :-D

Tuesday, 15 November 2011

Intermezzo

Found these quotes quite working on me. Hope they can convince you too *wink*

LA NATURA E L'ARTE DI DIO

(Dante Alighieri)








We do not see nature with our eyes, but with our understandings and our hearts. 
(William Hazlitt)


arti dari quote pertama adalah 'Nature is the art of God' (alam adalah karya Yang Maha Kuasa). Kita adalah makhluk ciptaan Tuhan, apabila kita merusak alam maka secara tidak langsung kita merusak sebagian dari Tuhan. Dan arti quote yang kedua adalah kita tidal melihat alam dengan mata, tetapi dengan pemahaman dan hati. Jadi, kenali dan sayangilah alam agar eksistensinya tetap terjaga. Love our nature!






nb: semua foto yang ada di blog ini adalah original dan murni hasil jepretan saya. foto di atas di ambil di suatu telaga di daerah dekat madiun

Tissue? Big No


Tissue di atas adalah tissue kotor. Tadi saya tidak membawa handuk kecil yang biasa saya bawa untuk mengelap keringat karena handuk tersebut sedang dicuci. Saya jarang sekali menggunakan helaian tissue. Saya lebih suka memakai handuk kecil, handuk yang sudah menemani hari-hari berkeringat saya sejak masih putih-biru. Saya memang tidak bisa memberikan kontribusi yang besar kepada bumi tapi dengan penggunaan lap handuk, saya bisa menyelamatkan setidaknya nyawa satu pohon.

Bagi saya, penggunaan tissue adalah jauh dari praktis.
Alasan pertama: tissue lebarnya terbatas. Jika saya dalam aktivitas sehari-hari menggunakan tissue untuk mengelap keringat, tidak terbayang berapa lembar tissue yang akan saya gunakan
Alasan kedua: pemborosan. Tissue jika sudah habis harus dibeli lagi dan tidak mungkin kita membeli tissue yang berkualitas rendah karena bisa menyebabkan iritasi pada kulit. Bila dibandingkan, pengeluaran membeli tissue dengan mencuci sapu tangan/lap handuk pasti akan lebih hemat mencuci sapu tangan/lap handuk karena benda tersebut bisa digunakan secara kontinu
Alasan ketiga: lap handuk/sapu tangan memiliki daya serap yang lebih daripada tissue

Selain ketiga alasan di atas sebenarnya alasan utama saya adalah karena saya ingin turut serta menyelamatkan lingkungan. Haha muluk ya kelihatannya tapi saya sangat perihatin akan kebiasaan manusia jaman sekarang. Di toilet umum di kampus maupun di mall saya sering menemukan tempat sampah penuh dengan tissue. Jika saya perhatikan, orang-orang cenderung serakah dalam penggunaan tissue. Sekali pakai pasti akan mengambil 2-3 helai dan kebanyakan tissue yang digunakan adalah tissue yang berlapis 2. Saya membayangkan, berapa banyak tong sampah yang ada di kampus dan mall. Berapa banyak kampus dan mall yang ada di negara ini. Bila semua dikalikan pasti akan menjadi wajar bahwa luas hutan semakin lama semakin menyempit. Ini baru kontribusi dari produksi tissue, bagaimana kabar produksi kertas dan mabel? Membayangkannya saja membuat bulu kuduk berdiri :-|

Monday, 14 November 2011

Me ♥ Nature

Saya Senna Saraswati. Tahun ini saya menginjak angka yang ke-18. Sekarang saya sedang melanjutkan studi di Universitas Airlangga. Sejak dulu, saya selalu tertarik dengan segala sesuatu yang berbau alam. Menurut saya, alam adalah cerminan dari semua hal yang indah. Saya selalu terpesona dengan fenomena alam yang ada di sekitar saya. Walaupun di sekolah menengah atas saya tidak mengambil konsentrasi di ilmu pengetahuan alam, kekaguman saya akan alam tidak pernah luntur.
Saya adalah penonton setia acara-acara di televisi yang membahas kekayaan dan keindahan alam. Kebahagiaan tersendiri bisa menyaksikan bermacam-macam flora dan fauna yang ada di tiap sudut bumi.
    
Foto di bawah ini adalah foto yang saya ambil pada saat saya mudik ke kediaman nenek yang berada di Cikajang, tepatnya di kota Garut provinsi Jawa Barat. Sehabis solat ied, saya dan keluarga besar pergi mengunjungi makam kakek yang berada di tengah-tengah hutan. FYI, Cikajang termasuk desa jadi masih banyak lahan yang berupa hutan, salah satunya adalah tempat dimana kakek saya dimakamkan.


Hutan ini sederhana tetapi kaya karena dari situ saya bisa melihat pemandangan yang sangat indah. Pegunungan berbaris rapi seakan menyambut kedatangan saya yang sedang pulang kampung hehe. Nah, ini dia sedikit jepretan yang saya ambil. Check them out!






Sangat disayangkan ternyata desa nenek saya yang lugu ini juga sudah mulai dimasuki pendatang. Banyak lahan yang sekarang dibuka untuk pertanian dan perkebunan. Di jalan pulang ke Bandung, saya melihat dengan mata kepala sendiri ada hutan di kaki gunung yang terbakar. Padahal saya melihatnya dari kejauhan tetapi kobaran apinya sangat mencolok dan itu terjadi pada malam hari jadi sangat terlihat bahwa hutan itu kebakaran. Saya sebenarnya tidak tahu apa hal itu disengaja atau tidak yang jelas saya amat prihatin melihatnya dan disengaja maupun tidak hutan tersebut pasti akan menjadi cacat. What a shame :-(


Dua foto terakhir ini saya ambil di halaman rumah nenek. Saya benar-benar tertarik akan flora. Warna yang dimiliki tiap flora menurut saya adalah warna yang paling menawan. Benar begitu bukan?